Blind Access
Thursday, January 28, 2016
Audio Game - Accessible Game for People with Visually Impair
Jika kita mendengar istilah Audio game memanglah sangat terdengar asing. Biasanya kita mendengar istilah Video Game. Video Game adalah game yang dimainkan dengan menghadirkan visualisasi dalam bentuk grafik maupun gambar dan didukung dengan suara atau sound pendukung, berbeda dengan Audio Game. Audio Game adalah game yang hanya menampilkan suara saja untuk kita bermain game. Jadi, audio game merupakan game tanpa visualisasi gambar maupun grafik.
Lalu bagaimana bisa kita bermain game jika hanya dengan suara saja? Ya, Audio Game ini memang dirancang untuk orang – orang dengan keterbatasan pengelihatan. Audio Game ini merupakan game yang accessible bagi penyandang tunanetra, karena untuk memainkannya kita tidak perlu untuk melihat gambar atau grafis. Kita tinggal mengikuti suara dan suara sebagai pengganti gambar atau grafis tersebut.
Lalu apakah bisa orang biasa memainkannya? Tentu saja bisa, jika para penyandang tunanetra saja bisa memainkannya mengapa tidak dengan orang dengan pengelihatan normal. Tapi, tentu syaratnya adalah kita harus memekakan telinga dan pendengaran kita, karena Audio Game adalah game yang hanya diaccess dengan mengunakan suara.
Audio game pertama bernama Touch Me yang dirilis oleh Atari pada tahun 1974. Touch Me menampilkan serangkaian lampu yang akan menyala dengan nada yang menyertaiinya. Pemain ditantang untuk mengingat cahaya lampu ataupun nada – nada yang muncul dan kemudian menekan tombol – tombol yang tersedia sesuai urutan yang diingat oleh pemain. Jika pemain berhasil mengingat pada satu tahapan maka ditahap selanjutnya lampu serta nada yang muncul dan harus diingat akan semakin bertambah. Touch Me menggabungkan 2 komponen yaitu komponen visual berupa cahaya lampu dan komponen suara berupa nada – nada yang menyertai cahaya lampu tersebut, sehingga Touch Me merupakan game yang dapat dinikmati oleh orang – orang dengan pengelihatan normal maupun orang – orang dengan keterbatasan pengelihatan.
Sebelum Sistem Operasi Grafis seperti Windows berkembang, kebanyakan computer menggunakan Sistem Operasi yang berbasis text seperti DOS. Sistem Operasi yang berbasis text ini relative lebih mudah diaccess oleh orang – orang yang memiliki keterbatasan pengelihatan, hanya membutuhkan penggunaan tambahan Text to Speech (TTS Software). Untuk alasan yang sama mengikuti perkembangan TTS Software, game berbasis text pun juga ikut dikembangkan. Game berbasis text ini biasanya berupa game viksi interaktif. Game berbasis text ini bisa dimainkan oleh orang pada umumnya maupun orang dengan keterbatasan pengelihatan. Untuk orang dengan keterbatasan pengelihatan mereka menggunakan bantuan TTS software untuk mengubah text kedalam bentuk suara sehingga dapat diaccess oleh mereka. Namun, TTS Software pada umumnya tidak dapat mengaccess seluruh game yang ada. Hingga muncullah MacinTalk ditahun 1984 dari Aple yang membuat game accessible semakin berkembang dan melebarkan sayapnya. Salah satu game accessible yang berkembang adalah game petualangan.
Accessibilitas untuk orang – orang dengan keterbatasan pengelihatan mengalami perkembangan, seiring dengan perkembangan Sistem Operasi yang berbasis Grafis yang cukup pesat. Perkembangan Sistem Operasi berbasis grafis yang cukup pesat ini mendukung berkembangnya video game dan Audio game mengalami ketertinggalan. Sehingga hal ini menciptakan kesenjangan Antara game orang dengan pengelihatan normal dan orang dengan keterbatasan pengelihatan. Celah ini semakin besar karena pasar video game lebih besar dan lebih potensial. Game untuk orang – orang dengan pengelihatan normal semakin maju dengan menampilkan grafis 3 dimensi, dan semakin bervariasi. Hingga Game untuk orang – orang dengan keterbatasan pengelihatan pun diasingkan ke game – game klasik seperti BlackJack, BattleShip, Uno, Monopoli, Yatsi, Farkle, dan sejenisnya.
Namun, di era sekarang ini Audio Game mulai mengalami perkembangan yang cukup pesat sama seperti Video Game. Audio Game memiliki banyak variasi dan Ide – Ide Audio Game tersebut hamper sama seperti ketika seorang progamer game membuat ide pada Video Game. Audio Game di era sekarang ini sudah menggunakan pengembangan suara 3 Dimensi (rekaman binaural). Dalam audio Game 3 Dimensi ini, untuk mengetahui keberadaan musuh dalam suatu lingkungan game virtual tersebut digunakan efek dimana sound dimainkan dibagian tengah, kanan, maupun kiri untuk menunjukan keberadaan objek secara tepat. Dalam Audio Game 3 Dimensi efek suara stereo banyak dimainkan untuk menunjukan keadaan bahaya, atau untuk menunjukan keberadaan suatu benda. Volume juga memainkan peran yang penting untuk menunjukan jarak suatu objek dengan memainkan nada dan tinggi rendah volume tersebut. Oleh karena itu genre Audio Game diera sekarang ini semakin bervariasi. Misalnya : game balap, game petualangan, game aksi, dan sebagainya.
Bagaimana? Anda tertarik untuk bermain Audio Game?
Wednesday, January 27, 2016
Tunanetra Exis Dengan Smartphone Layar Sentuh …
Pasti anda semua berpikir ketika mendengar judul dari
artikel ini. Bagaimana ya seorang tunanetra dapat menggunakan hanphone layar
sentuh? Padahal mereka kan memiliki keterbatasan pada pengelihatannya. Bagaimana
mereka bisa mengoperasikan aplikasi-aplikasi yang ada didalamnya? Dan bagaimana
mereka bisa mengetik pada smartphone layar sentuh tersebut?
Di era modern seperti sekarang ini sudah tidak ada halangan
lagi bagi seorang tunanetra untuk tetap exis dengan smartphone-nya. Hal ini
dikarenakan raksasa-raksasa operating system seperti IOS dan Android telah
menyediakan fitur khusus untuk membantu aksesibilitas bagi tunanetra. Pada IOS
fitur tersebut bernama Voice Over. Sedangkan pada Android sendiri bernama Talk
Back.
Untuk mengaktifkan kedua fittur tersebut kita tinggal masuk
pada pengaturan di smartphone kita. Lalu masuk ke menu umum dan masuk pada menu
aksesibilitas. Jika anda pengguna IOS maka cari menu yang bernama voice over,
dan jika anda pengguna android maka cari menu yang bernama Talk Back. Jika
fitur ini diaktifkan maka otomatis smartphone kita tidak bisa berfungsi seperti
biasa. Jika kita menyentuh layar pada smartphone kita untuk sentuhan pertama
maka smartphone kita akan berbunyi aplikasi apa yang sedang kita sentuh
sekarang ini. Untuk membuka aplikasi tersebut maka kita harus men-double touch
layar smartphone kita.
Sedangkan untuk papan ketik sendiri tersedia beberapa
pilihan di pengaturan voice over atau talk back kita. Misalnya ada directtouch
typing berarti mengetik langsung hamper sama seperti saat smartphone kita dalam
keadaan normal Cuma bedanya adalah keluar suara huruf apa yang sedang kita
ketik sekarant. Singletouch typing dimana kita sentuhan pertama pada papan
ketik kita untuk membacakan huruf apa yan sedang kita sentuh sekarang ini dan
untuk mengetikannya maka kita harus double touch atau mengetuk dua kali pada
layar smartphone kita.
Ada juga touch typing mode mengetik yang paling disukai oleh
para tunanetra karena memang sangat mudah dan tergolong cepat. Touch typing
bekerja dengan cara kita menyentuhkan jari kita ke layar lalu ketika jari kita
telah menyentuh maka smartphone akan otomatis berbicara huruf apa yang sedang
kita sentuh sekarang. Jika posisi jari anda belum tepat pada huruf yang
diinginkan maka anda tinggal menggeser-geser jari anda hingga ketemu huruf yang
diinginkan tanpa melepaskan sentuhan anda pada layar. Bila sudah pada posisi
yang tepat lepaskan sentuhan anda pada layar dan huruf tersebut telah anda
ketikan.
Dengan fitur-fitur yang canggih seperti ini maka tidak ada
halangan lagi bagi tunanetra untuk tetap exis dengan smartphone-nya. Mereka
juga bisa tetap exis di dunia maya. Dan bisa sesuka hati berselancar di
internet.
Subscribe to:
Posts (Atom)